Suasana hangat penuh refleksi memenuhi ruang teater Cinepolis Lippo Plaza Manado pada Jumat malam (21/3), saat komunitas pemuda GMIM Jemaat Kristus Manado (GKM) mengadakan acara nonton bareng film rohani terbaru, “The Last Supper”, yang dirilis pada bulan Maret ini. Acara ini awalnya dirancang untuk kalangan pemuda saja, tapi karena banyak jemaat umum yang juga ingin ikut nonton, jadi dibuka untuk umum. Ada 66 orang hadir untuk menyaksikan film yang membawa narasi Perjamuan Terakhir ke dalam perspektif sinematik yang segar dan menyentuh itu.
Diselenggarakan di masa Pra-Paskah, kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar hiburan. “Tujuan utama kami adalah untuk meningkatkan kebersamaan, sekaligus menjadi sarana hiburan yang memberi ruang untuk merenungkan kehidupan kita sebagai pengikut Kristus,” ujar Olivia Pratanto, penatua pemuda dan PIC acara ini.

Film “The Last Supper”, sebuah proyek film rohani yang diproduksi oleh penyanyi Kristen ternama Chris Tomlin, menghadirkan kisah Perjamuan Terakhir dalam bentuk yang artistik dan mendalam. Dengan tagline “The story you know, in a way you’ve never seen”, film ini mengajak penonton untuk merenungkan kembali kasih dan pelayanan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya saat perjamuan terakhir sebelum Dia ditangkap oleh pemuka agama Yahudi seperti yang tertulis di dalam alkitab.
Salah satu pemuda, Nicholas Tanoto, membagikan pengalamannya seusai menonton: “Bagi saya, kegiatan nobar yang diadakan sangat baik. Saya tidak pernah mengira suatu film bisa membawa kita lebih dalam memaknai minggu sengsara Tuhan Yesus. Melalui film The Last Supper saya seperti diajak melihat bagaimana perspektif para murid ketika itu: bagaimana kebingungan mereka yang belum mengerti saat Tuhan Yesus memberitahu tentang penderitaan-Nya, bagaimana iman mereka digoyahkan ketika Yesus ditangkap, dan lain-lain.
Scene yang paling berkesan buat saya itu ketika Yesus membasuh kaki para murid. Bagian itu membuat saya mengingat kembali bahwa saya juga seharusnya melayani sesama seperti Yesus yang merendahkan diri melayani para murid.” Nicholas melanjutkan, “Jangan melihat film ini dari sisi historis atau sekadar bagaimana kemiripan dengan kronologi atau perbedaan dengan cerita di Alkitab, tapi pandanglah sebagai suatu perenungan bagi kita: apakah kita adalah Yudas masa kini yang akan menjual Yesus demi keselamatan pribadi, atau akankah kita juga goyah ketika keadaan tidak seperti yang kita pikirkan.”
Senada dengan itu, Ev. Hans Gosal, selaku pembina Kompel Pemuda GMIM Jemaat Kristus yang juga ikut nobar, memberikan refleksi mendalam dari sudut pandang pembinaan rohani: “Saya berharap melalui film tersebut kita dapat melihat sudut pandang sebagai murid Kristus yang memiliki keinginan yang tulus dan mulia untuk melayani-Nya, seperti bagaimana para murid menghormati dan berupaya menjaga Tuhan Yesus. Para murid tidak mengerti apa maksud Tuhan Yesus tentang waktunya telah tiba untuk menderita—terkadang kita pun bisa tidak mengerti maksud Tuhan ketika membaca bagian Alkitab. Dalam film ini banyak ditekankan bahwa apa yang sudah dinubuatkan oleh para nabi tentang Tuhan Yesus perlahan digenapi, beberapa kali membicarakan tentang nubuat dari nabi Zakharia, Yesaya, dan Yehezkiel. Namun terutama, film ini mengajak kita melihat pengorbanan Tuhan Yesus menanggung akibat dosa manusia di kayu salib, dan bangkit untuk mengalahkan maut—sehingga setiap kita, pengikut-Nya hari-hari ini, menjalani kehidupan untuk melayani Dia, menjadi seorang murid Kristus dan menolong orang lain menjadi murid-Nya.”
Acara ini bukan hanya sekadar pemutaran film, tetapi menjadi momen spiritual yang memberi ruang kontemplasi bersama, di tengah dunia yang sering kali bergerak terlalu cepat. Meski tantangan tetap ada—seperti peserta yang masih mendaftar melewati batas waktu—Olivia bersyukur acara ini dapat terlaksana dengan dukungan pembina Kompel Pemuda, fasilitator SHINE Pemuda, serta kerja sama dengan pihak Cinepolis.
Ke depan, GKM berencana untuk mengadakan acara serupa, mengingat respon positif dari para peserta. “Harapannya, lewat film seperti ini, kita tidak hanya terhibur, tapi juga diberkati dan mungkin mengambil komitmen baru untuk semakin mengasihi Tuhan,” tambah Olivia.
Ia juga menyampaikan harapan lebih luas: “Semoga semakin banyak tercipta film rohani yang berkualitas, karena ini adalah salah satu sarana penginjilan yang sangat baik—memperkenalkan Kristus melalui media yang bisa menjangkau generasi saat ini.”
Bagi siapa saja yang ingin mengalami kembali momen reflektif ini, film The Last Supper layak ditonton apabila ada kesempatan—baik secara pribadi, bersama komunitas, atau dalam kelompok kecil pelayanan. Film ini bukan hanya menyajikan kisah yang sudah dikenal, tetapi juga menghadirkannya dengan sudut pandang yang menyentuh hati dan membangkitkan kerinduan untuk hidup sebagai murid Kristus sejati. Jika masih tersedia di bioskop atau platform streaming ke depannya, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikannya dan membagikan pengalaman spiritual ini kepada orang lain.