![]()
Oleh: Pnt. Dwight Mooddy Rondonuwu
Pembina Remaja GMIM
(Ketua KPRS GMIM Periode 2014–2018)
Tiga puluh enam tahun adalah usia kedewasaan. Dalam kehidupan manusia, usia ini sering menjadi momen refleksi: apakah seseorang hanya bertambah umur, atau sungguh bertumbuh dalam arah dan makna hidup. Pertanyaan yang sama patut diajukan ketika Komisi Pelayanan Remaja Sinode (KPRS) GMIM merayakan Hari Ulang Tahun ke-36 pada 28 Januari 2026, terlebih ketika remaja gereja hari ini hidup di tengah dunia yang semakin sekuler dunia yang kian memisahkan iman dari kehidupan sehari-hari.
Sekularitas tidak selalu hadir dalam bentuk penolakan terhadap agama. Ia sering muncul secara halus: iman dipinggirkan, nilai Kristiani dikalahkan oleh popularitas, kenyamanan, dan arus zaman. Dalam konteks inilah perayaan HUT KPRS GMIM seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi ruang refleksi kritis: apakah pelayanan remaja GMIM sungguh membentuk Remaja Bagi Kristus, atau tanpa sadar membiarkan remaja tumbuh saleh di gereja, namun sekuler dalam kehidupan nyata?
![]()
Sebagai Pembina Remaja GMIM dan mantan Ketua KPRS GMIM periode 2014–2018, saya memaknai momentum ini sebagai undangan untuk bercermin bersama. Kedewasaan sebuah pelayanan gerejawi tidak diukur dari lamanya usia organisasi atau banyaknya program yang dijalankan, melainkan dari kejernihan visi, kedalaman iman, dan keberanian menjawab tantangan zaman. Pertanyaan mendasarnya sederhana, namun mendesak: ke mana arah pelayanan remaja GMIM hari ini?
Remaja GMIM hidup di tengah dunia yang bergerak sangat cepat. Arus informasi datang tanpa henti, nilai-nilai terus bergeser, dan dunia digital membentuk cara berpikir, merasa, serta mengambil keputusan. Dalam situasi seperti ini, gereja tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi harus hadir sebagai penunjuk arah hidup. Gereja dipanggil untuk menjadi kompas iman yang menolong remaja membedakan mana yang benar, bernilai, dan memerdekakan di dalam Kristus.
Alkitab sejak awal menempatkan masa muda sebagai fase yang menentukan. “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya,” tulis Amsal (22:6). Ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan tanggung jawab rohani lintas generasi. Injil Lukas mencatat bahwa Yesus sendiri bertumbuh secara utuh—dalam hikmat, perawakan, dan kasih, baik di hadapan Allah maupun manusia (Luk. 2:52). Pertumbuhan iman yang sejati selalu menyentuh seluruh dimensi kehidupan.
Berbagai kajian tentang remaja menunjukkan bahwa masa ini adalah fase pencarian jati diri. Remaja bergumul dengan pertanyaan: siapa saya dan ke mana saya melangkah? Jika gereja—khususnya KPR di semua aras—tidak menyediakan ruang yang aman untuk bertanya, bergumul, dan bertumbuh, maka remaja akan mencari jawabannya di luar komunitas iman. Tidak mengherankan jika banyak remaja tampak aktif dan percaya diri di media sosial, tetapi rapuh secara batin, mudah cemas, dan kehilangan makna hidup.
Sejumlah riset juga menunjukkan bahwa remaja yang dibina secara konsisten dalam komunitas iman memiliki ketahanan mental yang lebih baik, orientasi hidup yang lebih jelas, serta kecenderungan lebih rendah terhadap perilaku berisiko. Spiritualitas yang sehat menolong remaja menghadapi tekanan hidup dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, pelayanan remaja bukan hanya urusan internal gereja, tetapi juga investasi sosial bagi masa depan masyarakat.
Dalam konteks GMIM, visi “Remaja Bagi Kristus” bukan sekadar slogan, melainkan panggilan hidup. Remaja Bagi Kristus berarti remaja yang berakar dalam iman, bertumbuh dalam karakter, dan berbuah dalam kehidupan nyata. Rasul Paulus mengingatkan agar orang percaya tidak menjadi serupa dengan dunia ini, melainkan mengalami pembaruan budi (Roma 12:2). Pesan ini sangat relevan bagi remaja GMIM yang hidup di tengah tekanan sekularitas dan godaan untuk berkompromi dengan nilai-nilai yang menjauh dari Injil.
Karena itu, pelayanan remaja tidak boleh berhenti pada rutinitas dan kegiatan seremonial. KPRS GMIM dan seluruh KPR jemaat dipanggil untuk menghadirkan pelayanan yang transformatif, yang menumbuhkan kedewasaan iman, membentuk karakter, dan menajamkan kepedulian sosial. Remaja perlu diperlengkapi bukan hanya untuk hadir dalam kegiatan gereja, tetapi untuk hidup sebagai murid Kristus di sekolah, di rumah, di ruang digital, dan di tengah masyarakat.
Tantangan pelayanan remaja semakin kompleks di era digital. Teknologi membuka peluang besar bagi kreativitas dan pelayanan, namun juga membawa risiko serius bagi kesehatan mental dan krisis makna hidup. Gereja tidak dipanggil untuk menolak teknologi, melainkan mendampingi remaja agar bijak, kritis, dan bertanggung jawab dalam menggunakannya, dengan iman Kristen sebagai lensa utama.
Dalam situasi inilah, peran Tenaga Pembina Remaja GMIM menjadi sangat menentukan. Pembina bukan sekadar pelaksana program, tetapi teladan hidup, sahabat rohani, dan pendamping iman. Remaja belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi dari kehidupan yang mereka lihat. Keteladanan—kejujuran, kerendahan hati, kesetiaan, dan integritas—menjadi kesaksian iman yang paling kuat.
Pelayanan remaja pada akhirnya adalah panggilan profetik gereja di tengah dunia yang semakin sekuler. Ketika gereja setia membina remaja hari ini, gereja sedang menjaga arah masa depan. Sebab remaja hari ini adalah gereja esok hari. Seperti yang Yesus katakan, “Akulah pokok anggur dan kamu adalah ranting-rantingnya” (Yoh. 15:5). Selama remaja GMIM tinggal di dalam Kristus, mereka akan berbuah dalam iman, karakter, dan pelayanan.
Momentum HUT ke-36 KPRS GMIM seharusnya tidak berhenti pada perayaan, tetapi menjadi titik balik. Titik balik untuk berani mengevaluasi diri, memperbarui cara melayani, dan meneguhkan kembali visi, misi dan strategi pelayanan remaja GMIM. Gereja khusunya KPR disemua aras pelayanan dipanggil bukan hanya untuk memiliki remaja yang hadir di bangku ibadah, tetapi remaja yang hidupnya memuliakan Kristus di tengah dunia nyata yang semakin sekuler ini.
Kiranya Tuhan meneguhkan kembali arah pelayanan remaja GMIM sesuai visi dan misiNya, membangkitkan pembina-pembina yang visionir, misionir dan memiliki karakter Kristus, sehingga para remaja yang dibina akan bertumbuh imannya menjadi generasi yang berakar kuat dalam Kristus, berdiri teguh di tengah perubahan zaman, dan menjadi berkat bagi gereja, masyarakat, bangsa, kini dan sepanjang masa.