Dalam setengah abad terakhir, Manado telah mengalami lebih dari sepuluh kali banjir besar, dengan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan kerugian ekonomi yang terus berulang. Sejak 1996 hingga banjir bandang terbaru pada Maret 2025, bencana demi bencana terus menghantui kota ini. Pertanyaannya bukan lagi “kapan Manado akan banjir lagi?” melainkan “mengapa kita belum benar-benar belajar?”
Banjir sebagai Kenyataan yang Terulang
Tahun 1996 menjadi tonggak awal dari serangkaian banjir besar yang tercatat secara sistematis. Puluhan korban jiwa dan ribuan rumah terendam menjadi sinyal bahaya bagi perencanaan kota yang belum adaptif terhadap cuaca ekstrem dan perubahan iklim. Tahun 2000 memperparah catatan kelam itu dengan 22 korban jiwa dan kerugian ekonomi yang masif.

Rentetan peristiwa pada 2005, 2006, 2013, dan puncaknya pada Januari 2014, menunjukkan skala dan intensitas yang makin meningkat. Banjir 2014 tidak hanya menewaskan hampir 20 orang, tetapi juga memaksa 86.000 warga mengungsi dan menimbulkan kerugian hingga Rp1,8 triliun—terbesar sepanjang sejarah bencana banjir Manado.
Setelah 2014, harapan akan perbaikan muncul. Namun, banjir kembali hadir di tahun 2019, 2021, 2022, 2023, dan 2025. Data menunjukkan pola yang sama: hujan ekstrem, luapan sungai, kerusakan rumah, korban jiwa, dan lumpuhnya aktivitas ekonomi. Bahkan banjir 2025 merendam ribuan rumah, menewaskan 1 orang, dan mengakibatkan ribuan warga mengungsi.
Akar Masalah: Bukan Sekadar Cuaca
Cuaca ekstrem hanyalah pemicu. Akar masalah banjir Manado adalah kombinasi dari tata ruang kota yang semrawut, alih fungsi lahan, pendangkalan sungai, serta kurangnya sistem drainase yang memadai. Kawasan perbukitan yang sebelumnya menjadi penyangga ekologis berubah menjadi kawasan perumahan. Hutan lindung dan sempadan sungai berubah fungsi menjadi area komersial dan permukiman.
Tak hanya itu, drainase kota sebagian besar masih mengikuti pola lama yang tidak dirancang untuk menampung debit air hujan masa kini. Upaya normalisasi sungai dan perbaikan saluran air berjalan lambat dan tidak sistemik. Dalam beberapa kasus, proyek drainase malah menambah persoalan karena tidak terhubung secara terpadu dengan ekosistem aliran sungai.
Trauma Kolektif dan Daya Tahan Sosial
Warga Manado tidak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga mengalami trauma berkepanjangan. Dalam setiap bencana, ada korban anak-anak yang kedinginan, lansia harus diungsikan, dan ada keluarga-keluarga yang tertimbun longsor, serta keluarga yang terpisah. Pasrah bukanlah pilihan, namun menjadi respons sosial yang lahir dari rasa lelah menghadapi bencana yang sama dari tahun ke tahun.
Solidaritas lokal memang menguat dalam masa krisis. Gereja, masjid, rumah ibadah, dan balai pertemuan menjadi tempat pengungsian spontan. Tapi sampai kapan kita bertahan hanya dengan empati dan relawan? Dibutuhkan kebijakan struktural dan investasi serius dalam manajemen risiko bencana.
Menuju Solusi: Jangan Hanya Reaktif
Penanganan banjir tidak boleh lagi reaktif. Pemerintah daerah bersama pusat harus membangun sistem peringatan dini berbasis data hujan dan debit sungai, mempercepat penataan kawasan bantaran sungai, serta menegakkan larangan pembangunan di area rawan banjir dan longsor.
Revitalisasi kawasan hulu dan reforestasi perbukitan di wilayah sekitar Manado harus menjadi prioritas. Tanpa penyerapan air yang cukup di wilayah hulu, kawasan hilir seperti pusat kota akan terus menjadi korban. Program drainase kota harus dikaji ulang secara menyeluruh, termasuk pengembangan danau retensi dan sumur resapan di wilayah padat penduduk.
Selain itu, transparansi dalam pelaksanaan proyek infrastruktur anti-banjir mutlak diperlukan. Partisipasi publik harus dilibatkan sejak perencanaan, agar kebijakan tidak hanya berhenti di atas meja atau menjadi proyek mercusuar yang gagal menjawab persoalan inti.
Saatnya Menentukan Arah
Manado tidak kekurangan laporan bencana, kajian ilmiah, atau bantuan pusat. Yang kurang adalah konsistensi dan kemauan politik untuk menjadikan mitigasi banjir sebagai prioritas pembangunan kota. Momentum pasca-banjir 2025 ini harus dimanfaatkan untuk mereformasi total kebijakan lingkungan dan perencanaan ruang di Manado.
Kita tidak bisa menghindari hujan, tapi kita bisa belajar untuk menghindari bencana. Sejarah 50 tahun banjir Manado bukanlah kutukan, melainkan panggilan untuk bertindak.