
Di Negara-negara maju seperti Singapura telah sejak lama mengenal dan menerapkan konsep waterfront city ini. Kalo kita pernah berkunjung kesana, kita akan melihat bagaimana wilayah-wilayah pesisir pantai menjadi zona yang paling disukai masyarakat untuk beraktifitas seperti duduk santai, bercakap-cakap, rekreasi dan kegiatan lainnya karena itulah tujuan dari konsep ini dibuat. Di Indonesia sendiri sebagai Negara kepulauan, dimana hampir sebagian besar wilayahnya berbatasan dengan garis pantai dan selain itu juga memiliki banyak sekali sungai, sangat cocok untuk menerapkan konsep ini.
Penerapan Konsep Water Front City di Kota Manado
Kota Manado yang berada di pinggiran pantai sekaligus terletak di kawasan hilir dari 4 sungai besar yang membelah wilayah kota Manado, sangat memungkinkan untuk diterapkannya konsep ini. Apalagi dibeberapa tempat yang menerima dampak yang cukup besar dari bencana banjir beberapa waktu lalu adalah area bantaran sungai yang telah padat oleh pemukiman warga. Bencana diawal tahun ini dapat menjadi pengalaman berharga untuk secepatnya diteliti dan dipikirkan sekaligus dilakukan upaya preventif/pencegahan terhadap ancaman bencana yang sama dikemudian hari. Dari evaluasi pasca bencana banjir bandang ini, beberapa masalah coba diidentikkan dengan banjir Manado.
Mulai dari rusaknya lingkungan di wilayah hulu, pembangunan pemukiman yang sembarangan (tidak mengikuti regulasi yang ada mengenai tata ruang wilayah kota), berkurangnya luasan daerah resapan air, buruknya system drainase adalah beberapa masalah hari ini yang menjadi pemicu terjadinya banjir. Ditambah faktor prilaku masyarakat terhadap alam sekitar juga dapat menjadi penyebab. Daerah bantaran sungai sekali lagi adalah wilayah yang paling sering merasakan dampak terburuk dari banjir yang diakibatkan juga oleh manusia yang sering merampas hak-hak alam yang akhirnya merusak lingkungan alam.
Konsep waterfront city dapat menjadi sebuah solusi mengelola salah satu titik rawan banjir yaitu bantaran sungai. Penerapan konsep ini memiliki banyak manfaat selain sebagai upaya pencegahan dari dampak banjir itu sendiri, dapat juga memberi nilai estetika, dimana biasanya daerah sungai menjadi area tersembunyi (belakang pemukiman) yang memungkinkan untuk dijadikan tempat pembuangan akhir dan yang pasti tidak terawat.
Kondisi seperti ini harus segera diperbaiki oleh pihak terkait dan seluruh masyarakat yang merasa bertanggungjawab di Bumi Nyiur Melambai ini, Apalagi salah satu grand strategi Pemerintah Kota Manado Periode 2011-2015 ini, “Kawasan boulevard dan DAS Tondano menjadi waterfront city dengan infrastruktur dan fasilitas yang bertaraf internasional”. Namun sayangnya point ini belum benar-benar diseriusi sehingga sampai hari ini dua kawasan yang dimaksud menurut saya masih jauh dari penerapan konsep ini.
Daerah bantaran sungai Tondano sebagian besar masih menjadi area belakang pemukiman penduduk yang tidak heran ketika awal tahun ini, intensitas curah hujan yang tinggi mengakibatkan banjir bandang dan memporakporandakan tatanan kehidupan masyarakat dibantaran sungai ini. Disisi lain pemanfaatan kawasan boulevard masih sepenuhnya untuk kegiatan komersil saja. Seperti di pesisir pantai di kawasan megamas dan bahu mall dijadikan pusat kuliner. Memang salah satu tujuan dari konsep water front city sendiri adalah mengelola wilayah pinggiran sungai/laut sebagai wilayah yang dapat bermanfaat yang didalamnya juga bisa digunakan sebagai area komersil, namun perlu dipikirkan juga tentang desainnya yang ramah lingkungan dan keselamatan manusia. Penerapan konsep waterfront city ini harus benar-benar dimengerti tujuan dan manfaatnya secara luas terhadap kota dan masyarakat.
Kota-kota dan Kabupaten lain di Sulawesi Utara juga perlu memikirkan untuk menerapkan konsep waterfront city ini. Kalo kita berpikir tentang ancaman serupa (banjir akibat luapan sungai) di kota Manado, mau tidak mau kota-kota seperti Bitung, Tondano, Minahasa Utara dan lainnya yang juga berada di pesisir pantai dan bantaran sungai perlu untuk sejak dini mempersiapkan upaya pencegahan dini yang mungkin bisa disiasati dengan penerapan konsep water front city ini.