![]()
Dalam sebuah podcast, seorang narasumber menyampaikan pernyataan yang memancing pikiran: “Saya memutuskan sejak lama bahwa saya tidak akan memiliki pendeta atau pemimpin rohani favorit.”
Sekilas, pernyataan ini terdengar kontradiktif. Bukankah wajar – dan bahkan hal yang baik – untuk memiliki teladan iman yang taat dan setia sebagai role model kehidupan kita?
Namun, jika kita melihat kitab Yesaya, Allah justru menegur kecenderungan ini. Mengkultuskan manusia, betapapun rohaninya mereka, pada dasarnya adalah penyembahan berhala.
”Sungguh, kamu akan mendapat malu karena pohon-pohon tarbantin yang kamu dambakan; dan kamu akan mendapat cela karena taman-taman yang kamu pilih.” (Yesaya 1:29 – TB2)
Di masa lampau, pohon tarbantin dikenal sangat kuat dan berdaun lebat. Rindangnya pohon ini mengundang banyak orang untuk mencari perteduhan di bawahnya. Sayangnya, karena karakteristik itu pula, pohon ini kerap dijadikan tempat pemujaan berhala.
Bukankah hal serupa sering terjadi pada pemimpin rohani yang kita dambakan? Kehidupan mereka yang taat, setia, dan berbuah lebat ibarat pohon tarbantin. Tanpa sadar, kita mulai menggantungkan hidup dan iman kepada mereka, padahal kehadiran pemimpin rohani bukanlah tujuan akhir. Mereka hanyalah penunjuk arah menuju Jalan yang Benar (Yohanes 14:6).
Melalui Yesaya 61:3, Tuhan memberikan sudut pandang yang baru. Dia tidak ingin kita sekadar mencari perteduhan di bawah ‘pohon tarbantin’ orang lain. Sebaliknya, Dia memanggil kita untuk menjadi pohon itu sendiri.
”Sesungguhnya mereka akan disebut ‘pohon tarbantin kebenaran,’ yang kuat dan indah, yang telah ditanam TUHAN untuk kemuliaan-Nya sendiri.” (Yesaya 61:3 – FAYH)
Tuhan rindu iman kita berakar langsung kepada-Nya, bukan menumpang pada kerohanian orang lain. Dia menginginkan keintiman pribadi yang tak tergoyahkan oleh situasi atau kegagalan manusia, semata-mata agar keagungan-Nya nyata melalui hidup kita.
Bagi kita para pemimpin rohani, ini adalah pengingat harian: kita bukanlah objek iman jemaat, melainkan Allah sendiri. Jangan biarkan mereka hanya puas dengan pelayanan kita, tetapi ajarilah mereka cara membangun hubungan pribadi dengan Tuhan melalui doa dan firman.
Arahkan mereka yang kita pimpin untuk melihat tanah dan sumber air hidup yang sejati, yakni Yesus Kristus.
”Kristus Yesus tidak pernah berubah sejak dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8 – TSI3.4)