![]()
Sebuah Refleksi
“Setia Melayani Hingga Garis Akhir: “Finishing Well”
Oleh: Dwight Mooddy Rondonuwu (ARS-85)
Ketua BP IkA UPK-Kr Fakultas Teknik UNSRAT (2021-2025)
“Many start well, but only some are able to finish faithfully.”
MANADO – Dalam perjalanan hidup, karier dan pelayanan, banyak yang berlari kencang di awal, tetapi kehilangan arah sebelum mencapai garis akhir. Dunia modern mengajarkan kita untuk fokus pada pencapaian, percepatan, dan hasil yang terlihat. Namun iman Kristen menantang kita untuk bertanya lebih dalam yaitu bukan hanya bagaimana kita memulai, tetapi bagaimana kita menyelesaikan perjalanan hidup ini.
Konsep finishing well bukanlah istilah motivasi semata, melainkan refleksi iman yang sangat alkitabiah. Rasul Paulus, ketika menutup perjalanan hidup dan pelayanannya, tidak berbicara tentang keberhasilan organisasi atau pengaruh sosialnya. Ia hanya berkata dengan sederhana namun penuh makna: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Pernyataan ini menegaskan bahwa ukuran keberhasilan dalam iman Kristen adalah kesetiaan.
Bagi kita yang tergabung dalam wadah IkA UPK-Kr Fakultas Teknik UNSRAT terutama yang telah lama meninggalkan bangku kuliah tantangan terbesar bukanlah bagaimana bertumbuh secara intelektual atau profesional, melainkan bagaimana tetap hidup berintegritas di tengah tekanan dunia kerja, keluarga, dan tanggung jawab sosial yang semakin kompleks. Dunia profesional sering kali membuka ruang kompromi seperti kompromi etika demi target, kompromi nilai demi jabatan, bahkan kompromi iman demi kenyamanan hidup. Tidak sedikit yang secara perlahan menjauh dari panggilan awal, bukan karena penolakan iman, tetapi karena kelelahan rohani yang tidak disadari.
Di sinilah makna finishing well menjadi sangat relevan. Finishing well bukan berarti hidup tanpa kegagalan, tetapi tetap kembali kepada Tuhan setiap kali jatuh, tetap menjaga hati ketika dunia menawarkan jalan pintas, dan tetap setia meskipun tidak lagi berada di panggung utama. Finishing well adalah tentang hidup yang berakar di dalam Kristus, sebagaimana diingatkan dalam Kolose 2:6–7, sehingga apa pun musim kehidupan yang dijalani, iman tidak tercabut oleh perubahan zaman.
Profesionalisme, dalam perspektif Kristen, bukanlah sekadar kecakapan teknis atau prestasi karier. Profesionalisme sejati lahir dari integritas. Alumni Kristen dipanggil untuk bekerja dengan excellence bukan demi pujian manusia, tetapi sebagai bentuk ibadah. Integritas di ruang kerja, kejujuran, tanggung jawab, keberanian menolak ketidakbenaran sering kali menjadi kesaksian Injil yang paling nyata. Kita mungkin tidak selalu berkhotbah di tempat kerja, tetapi hidup kita sedang “dibaca” setiap hari. Seperti yang ditulis Paulus, kita adalah surat Kristus yang terbuka.
Namun kesetiaan tidak mungkin dipelihara sendirian. Salah satu pelajaran penting dalam kepemimpinan dan kehidupan iman adalah bahwa komunitas bukan pelengkap, melainkan kebutuhan rohani. Pengkhotbah mengingatkan bahwa tali tiga lembar tidak mudah diputuskan. Dalam komunitas yang sehat, kita diingatkan ketika mulai lelah, diteguhkan ketika goyah, dan ditolong ketika hampir menyerah. Bagi kita yang ada dalam komunitas IkA UPK-Kr FT UNSRAT, persekutuan dan jejaring rohani menjadi ruang penting untuk menjaga visi dan nilai tetap hidup di tengah dunia yang terus berubah.
Sebagai pribadi yang telah diberi kepercayaan melayani sebagai Ketua Ikatan Alumni UPK-Kr FT UNSRAT selama dua periode (2021–2025), saya belajar bahwa kepemimpinan pelayanan bukanlah tentang kemampuan manusia atau keberhasilan program. Seluruh perjalanan ini adalah kesaksian tentang kesetiaan Tuhan Yesus Kristus, Sang Kepala Pelayanan, yang memampukan di tengah keterbatasan dan dinamika yang tidak selalu mudah. Melayani para alumni yang tersebar di berbagai profesi dan tempat baik di dalam maupun di luar negeri, meneguhkan keyakinan saya bahwa panggilan sebagai alumni Kristen justru semakin nyata setelah kita terjun penuh ke dunia kerja dan kehidupan keluarga.
Di akhir masa pelayanan ini, refleksi tentang finishing well menjadi sangat personal. Saya menyadari bahwa jabatan akan berakhir, struktur organisasi akan berganti, tetapi nilai iman dan integritas adalah warisan yang paling berharga. Kerinduan saya sederhana yaitu kiranya setiap alumni Kristen, di mana pun Tuhan menempatkannya untuk tetap setia memelihara iman, hidup berintegritas, dan menyelesaikan setiap musim kehidupan dengan baik bukan demi nama atau jabatan, melainkan demi kemuliaan Tuhan sehingga menjadi berkat bagi banyak orang.
Di akhir refleksi ini, pertanyaan yang patut kita renungkan bersama bukanlah “seberapa jauh kita sudah melangkah,” melainkan “bagaimana kita akan mengakhiri perjalanan ini.”
Apakah kita akan dikenang sebagai pribadi yang sukses tetapi kehilangan arah, atau sebagai alumni Kristen yang walaupun hidupnya sederhana namun setia? Finishing well adalah undangan untuk memilih kesetiaan hari demi hari, keputusan demi keputusan hingga akhirnya kita dapat berkata dengan penuh keyakinan dan syukur sebab iman telah dipelihara, panggilan telah dijalani, dan hidup telah menjadi berkat.
“Starting well is important. Finishing faithfully is what truly matters.” (DMR)