Home » Citizen Journalism » Sisi Manado Yang ‘caparuni’
Rental Mobil Murah di Manado

Sisi Manado Yang ‘caparuni’

Sisi kota Manado yang kotor

Kota Manado yang ku cintai, kita nyanda mo lupa. Dari kita masih kecil sampe kita so besar, jaga pigi di kobong. Makang batata rubus colo deng dabu-dabu adodo pe pidis skali. Cari air nyanda dapa, minum air kalapa muda adodo pe sadap skali.

Demikian lirik lagu ‘klasik’ Manado yang menggambarkan suasana ibu kota Provinsi Sulawesi Utara itu tempo doloe. Tapi Manado tempo doloe dan Manado sekarang sudah jauh berbeda. Pembangunan yang begitu pesat membuat kobong-kobong menghilang, dan Manado menjelma menjadi kota besar. Jamaknya kota-kota besar, Manado juga mengalami persoalan yang sama, yaitu masalah sampah. Seperti kita ketahui bersama berdasarkan sifatnya sampah terbagi dua, yaitu:

  1. Sampah organik, adalah jenis sampah yang dapat diurai.
  2. Sampah anorganik, adalah jenis sampah yang tidak dapat diurai.

Kedua sampah di atas jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan banyak masalah, saya tidak perlu lagi menjelaskan masalah-masalah apa yang akan timbul kalau kita tidak mengolah sampah itu dengan baik. Kembali ke Manado, tahum 2005 bapak Jimmy Rimba Rogi sebagai Walikota periode 2005 – 2010, mencanangkan Manado sebagai Kota Pariwisata Dunia 2010. Kemudian dilanjutkan oleh bapak Vicky Lumentut (2010 – 2015) dengan mencanangkan kota Manado sebagai kota ekowisata.

Selain itu Manado juga dikenal sebagai kota peraih penghargaan Adipura dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup, sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Akan tetapi saat ini fakta berbicara lain.

Dari foto di atas, bisa saya perlihatkan bahwa pantai teluk Manado sangat caparuni. Sudah rahasia umum, kalau wisatawan lokal maupun mancanegara mengeluh akan hal ini. Kita sering menemukan ‘sungai’ sampah yang menghadang perjalanan wisata kita ke pulau Bunaken. Ini semua salah siapa? Saya menjawab, kita semua salah. Tidak perlu lagi saling mempersalahkan dengan keadaan kota Manado yang kita cintai ini, tapi marilah torang saling membangun, just do what you can do, lakukan lah apa yang bisa kita lakukan. Istilah iklan di televisi:¬†“Talk less, do more” marilah kita masing-masing sadar dan jangan membuang sampah sembarangan di darat maupun di air (sungai dan laut), apa lagi dari udara.

Mari bersama torang benahi ini sisi kota Manado yang caparuni, selain mata boleh sadap mo balia pemandangan yang bersih, torang pe generasi berikut leh kasiang masih boleh mo nikmati ini kota Manado di masa datang. Sapa tau boleh mo muncul kamari lagu ‘kota Manado yang ku cintai’ versi modern.

Mengakhiri tulisan saya kali ini, saya ingin berbagi informasi. Tahukah Anda bahwa sampah plastik nanti akan terurai nanti sekitar 10 sampai ratusan tahun ke depan? Silahkan bayangkan sendiri, dengan  foto di atas, bagaimana kira-kira keadaan kota Manado 10 tahun ke depan, jika sampah-sampah kita, tidak kita kelola dengan baik dan benar. (@iGrafen)

*Foto: Muara sungai Sario tanggal 18 Maret 2013.

banner-natal-pemprov1024

Tentang Garadus Franklin

Menjadi Narablog atau Blogger sejak 2004 memberikan ruang untuk saya berkarya melalui tulisan di media internet. Saya Tidak jago menulis, tapi saya terus belajar untuk menjadi seorang penulis yang lebih baik lagi.

Lihat juga

BNN Evaluasi Progres Asesor Narkoba Se-Sulut

SEPUTAR SULUT. Manado – Selamatkan anak cucu kita dari bahaya NARKOBA Badan Nasional Narkotika Provinsi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silahkan jawab pertanyaan sebelum mengirimkan komentar: