Home » Tokoh Sulut » Ferry Liando, Kisah Sukses Anak Petani Cap Tikus
Rental Mobil Murah di Manado

Ferry Liando, Kisah Sukses Anak Petani Cap Tikus

Di Sulawesi Utara, siapa yg tidak kenal Ferry Liando? Dosen di Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi Manado sekaligus pengamat politik dan pemerintahan selalu menghiasi media cetak dan elektronik di bumi nyiur melambai dengan pemikiran-pemikiran yang selalu menjadi bahan pertimbangan dari para pengambil kebijakan.

Tak mengherankan jika Pria kelahiran Malola, 25 Mei 1974 sering diundang untuk mengisi seminar-seminar ilmiah tentang kebijakan publik, pemerintahan dan birokrasi di Sulawesi Utara. Tidak hanya itu, ayah dari Aaron, Sharon, dan Aarona tidak jarang menjadi pembicara di tingkat nasional.

Dibalik kisah suksesnya, siapa sangka Ketua senat termuda di Unsrat yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Ilmu Pemerintahan merupakan anak dari seorang petani cap tikus. Bersama dengan dua saudaranya, suami dari Lingkan Tulung ternyata harus melalui masa kecil dengan hidup serba kekurangan. Namun dengan tekad yang kuat serta dorongan dari orang tua yang berprofesi sebagai petani cap tikus maka anak anak dari Bpk Benny Liando dan Ibu Feibe Legi bisa lulus sarjana dan sampai saat ini Ferry Liando telah bergelar Doktor bersama dengan kakaknya Mayske Liando yang merupakan akademisi di Universitas Negeri Manado.

Ferry Liando, Kisah Sukses Anak Petani Cap TikusBerikut wawancara singkat redaksi Seputar Sulut dengan Dr. Ferry Daud Liando S.IP, M.Si

Redaksi :Bisa ceritakan masa kecil dari Dr. Ferry Liando?

Ferry Liando: Baik, terima kasih. Saya lahir dan besar di Desa Malola Kecamatan Kumelembuai,Minsel. 3 bersaudara, saya paling bungsu. Waktu kecil sering bantu papa ke kebun dan jualan kue buatan mama untuk kebutuhan hidup karena kondisi ekonomi keluarga sangat terjepit belum lagi mama sering keluar masuk rumah sakit.

Redaksi : Apa benar untuk ke sekolah harus jalan kaki bolak balik sekitar 10KM?

Ferry Liando: Kalau mau dihitung sekitar 12 km pulang pergi Malola Kumelembuai. Waktu itu SMP jarak dari Malola ke Kumelembuai 5 kilo, jarak dari pertigaan Kumelembuai ke sekolah 1 kilo, jadi 6 kilo. Panas dan hujan tidak menjadi masalah. Pernah saya dihukum angkat kaki setengah sepanjang hari karena ketahuan mencuri pisang di kebun orang, hal ini dilakukan akibat pulang sekolah kelaparan. Karena cuma dapat jajan Rp. 50 dan tidak cukup beli makanan. Kejadian yang sama berulang lagi dimana masuk kuliah di FISIP Unsrat tahun 1994 , ceritanya setiap bulan orang tua kirim uang untuk biaya kuliah dan makan. Hanya saja baru tanggal 20 uang sudah habis. Nanti tunggu kiriman pada awal bulan berikutnya. Lagi lagi harus mengambil jalan pintas dengan mencuri pisang pemilik kost dan ketahuan.

Redaksi: Apa sebenarnya motivasi anda untuk kuliah saat itu?

Ferry Liando: saat itu saya hanya punya satu motivasi yaitu bagaimana kelak bisa membantu ekonomi keluarga dan membahagiakan kedua orangtua termasuk membiayai ibu yang sakit-sakitan.

Redaksi : Apa yang membuat anda memilih menjadi Dosen?

Ferry Liando: Saat itu saya tidak berpikir mau menjadi dosen tapi saat semester akhir kuliah tahun 1999 saya ditawari oleh dua perguruan tinggi negeri yakni Unsrat dan Unima, dimana waktu itu Prof Jan L Lombok sebagai Dekan menawarkan saya untuk mengajar di Unima dan (alm) Prof. Joppy Paruntu sebagai Rektor Unsrat agar menjadi staf pengajar di Unsrat dan saya pilih berkarir di Unsrat, yah mungkin karena saya lulusan dari unsrat maka saya lebih memilih Unsrat.

Redaksi: Setelah anda menjadi dosen, apa pernah terpikir untuk membantu daerah anda?

Ferry Liando : Sering, sangat sering terpikir bagaimana bisa membantu daerah terutama desa saya. Yang termasuk daerah miskin dan terisolasi. Saya berpikir tidak mungkin hanya menyelamatkan keluarga saya dari keterpurukan ekonomi. Dorongan selanjutnya adalah bagaimana bisa membantu desa yang saat itu masih terisolasi.

Redaksi : Apa tindakan yang anda lakukan waktu itu?

Ferry Liando : Saya mulai mengajak beberapa teman berkumpul di Motoling untuk sama-sama memikirkan pengembangan daerah dan desa. Akhirnya Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan tentang perlunya memisahkan Minahasa Selatan dari Kabupaten Minahasa yang kami tahu itu sudah pernah diperjuangkan pada masa lampau. Mereka pun mendaulat saya sebagai ketua perkumpulan saat itu. Minggu berikutnya kami melakukan demonstrasi di DPRD Sulut menuntut adanya pemekaran. Lewat perjuangan panjang bersama teman-teman aktivis, saat ini Minsel berdiri kokoh sebagai salah satu daerah yang maju. Tentunya ini juga berdampak pada perkembangan desa Malola yang sebelum terbentuknya Kabupaten Minahasa Selatan tidak tertulis dalam peta.

Redaksi: bolehkah anda membagikan Moto Hidup yang selalu anda pegang?

Ferry Liando: Moto hidup saya adalah “kita tidak mungkin mendapatkan semua apa yang kita inginkan, oleh karena itu kita bersyukur kepada Tuhan Yesus atas apa yang telah saya dapatkan” saya juga memiliki motto dalam perjuangan saya yaitu akhir dari kesuksesan adalah langkah awal perjuangan baru.

Redaksi: Apa tanggapan anda terkait pelarangan peredaran Cap Tikus?

Ferry Liando: Data dari kepolisian bahwa banyak kasus kriminal dan kejahatan bersumber dari miras, itu betul tapi miras bukan hanya cap tikus. Banyak miras impor juga masuk sulut dan itu diperdagangkan secara bebas. Keliru jika hanya cap tikus dijadikan tumbal atau sasaran semata. Sehingga tidak ada alasan untuk melarang produksi cap tikus.

Produksi cap tikus jangan dilarang tapi yang perlu ditertibkan adalah pelaku penyalagunaan miras. Perlu aturan seperti membuat perda bahwa produksi cap tikus tidak dilarang tapi menertibkan mereka yang melakukan kejahatan. Jadi bisa saja ia minum alkohol dan mabuk, tapi sepanjang ia tidak membuat onar dan tidak buat kejahatan maka ia tidak membuay pelanggaran. Seseorang bisa dibebaskan mabuk asal ada aktivitas yang harus dibatasi saat ia mabuk seperti tidak boleh membawa mobil, tidak boleh berada dikerumunan atau tempat publik.

Tidak boleh membawa sajam dan tidak boleh membuat keributan. Jika kewajiban itu dipenuhi maka ia tidak dianggap membuat pelanggaran. Tapi jika hal diatas dilakukan maka orang itu perlu dipenjara atau dikenakan sangsi adminstratif. “Dengan demikian jika itu dilakukan polisi maka pelakunya yang ditangkap, bukan petani cap tikus yang harus dikorbankan atau menanggung semua resiko dari para pelaku kejahatan. Petani juga butuh makan, mereka harus sekolahkan anak-anak dan berhak untuk hidup. Jadi produksi cap tikus jangan dilarang. Jika seseorang membeli mobil dan mobil itu menabrak pejalan kaki dan tewas, apakah yang disalahkan adalah pembuat dan penjual mobil? Tentu tidak. Yang disalahkan tentunya pengemudinya.

Redaksi : Terima kasih pak ferry lianda atas waktu yang diberikan.. Semoga sukses dalam tugas dan tanggung jawab yang anda pegang.

Ferry Liando: terima kasih juga buat seputarsulut.com semoga semakin sukses.

banner-natal-pemprov1024

Tentang Seputar Sulut

seputarsulut.com memberikan kesempatan kepada anda yang ingin mempublikasikan berita/kejadian yang ada disekitar anda. Selain itu, Kami juga akan akan membantu mempromosikan usaha anda baik melalui seputarsulut.com maupun lewat situs jejaring sosial yang kami kelolah. Ayo berbagi informasi seputar sulawesi utara lewat facebook, Google+ atau anda bisa follow akun kami di twitter

Lihat juga

Karier Cemerlang EE Mangindaan

Senin, 5 Januari 2014 merupakan hari bersejarah bagi EE Mangindaan. Pada hari ini, Evert Erenst …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silahkan jawab pertanyaan sebelum mengirimkan komentar: