Home » Opini » Buruh Kesehatan, Miniatur Perburuhan Nasional
Rental Mobil Murah di Manado

Buruh Kesehatan, Miniatur Perburuhan Nasional

Asep RahmanBeberapa saat yang lalu sebuah pernyataan menarik dari seorang Jusuf Kalla, dalam sebuah forum resmi, beliau menyentil masalah rendahnya biaya jasa dari tenaga kesehatan di Indonesia. Bandingkan saja, sekali melakukan pemeriksaan pasien, seorang dokter di Indonesia hanya dihargai sebesar 200 ribu rupiah. Jauh berbeda dengan tetangga kita, dokter di Singapura, sekali periksa hingga 2 juta rupiah. Perbedaannya hingga 10 kali lipat, walaupun ini masih ukuran normatif sesuai dengan kondisi ekonomi setempat. Uniknya, menurut Jusuf Kalla, hal justru ini menjadi peluang bagi tenaga kesehatan Indonesia untuk terserap ke negara tetangga dalam kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Mungkin saja benar, ditambah pula tingginya honor tenaga asing, tentu akan memutar otak pekerja asing untuk bekerja di Indonesia. Namun benarkah demikian? Sistem kapitalisme global tidak akan kehilangan akal untuk mempertahankan ‘kejayaannya’. Justru dengan rendah nilai jasa tenaga kesehatan di Indonesia, maka pemilik modal dimungkinkan dapat membuat franchise fasilitas kesehatan yang berlabel asing, namun dengan tenaga kerja buruh lokal, tentu saja dengan honor yang ‘lokal’ pula. Idelanya, MEA 2015 dalam bingkai kapitalis global turut memperkuat legal status mana yang buruh dan mana yang majikan.

Kapasitas dan kualitas sumber daya manusia bukan lagi poin utama, sebab pemanfaatan sumber daya manusia tetap akan tunduk pada sebuah sistem yang mengaturnya. Posisi buruh kesehatan tetaplah lemah, mereka hanyalah pelaksana sistem. Kasarnya, buruh kesehatan tetaplah robot jika dilihat dari kacamata sistem. Fenomena lainnya, sektor kesehatan sama dengan sektor lainnya yang masih menerapkan tenaga outsourcing. Pada prakteknya outsourcing umumnya didorong oleh ‘ketamakan’ sebuah perusahaan untuk menekan cost serendah-rendahnya dan mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya yang seringkali melanggar etika bisnis. Memang, dalam jangan pendek model outsourcing sangat efektif digunakan dalam industri yang baru, high risk investment dan ataupun masih beroperasi dalam tahap percobaan. Namun dalam jangka panjang belum tentu. Tapi yang jelas model seperti ini sangat merugikan kaum buruh.

Sektor kesehatan merupakan benteng terakhir gempuran kapitalis. Sektor kesehatan yang diharapkan sebagai ujung tombak model layanan jasa yang bersifat sosial, makin terpinggirkan. Definisi sehat yang sejatinya tidak hanya melihat dari kondisi fisik, melainkan juga mental unsur bahkan lainnya seperti sosial ekonomi. Seringkali, tenaga kesehatan yang telah ‘disumpah’ untuk bekerja ikhlas untuk menolong sesama, harus ‘sakit hati’ menerima realita bahwa tidak ada lagi ruang yang disediakan untuk melayani pasien dengan ikhlas, semua telah dibingkai dengan nilai materi.

Makanya wajar, jika setiap tanggal 1 Mei dikenal sebagai hari yang ‘mencekam’. Mayday justru lebih sering terdengar sebagai panggilan gawat darurat, merupakan hari dimana bagi kaum buruh untuk menyampaikan keluh kesah meraka. Setiap tahunnya kita menyaksikan ribuan buruh melakukan demonstrasi di berbagai media massa. Lautan massa berbaris dan bergerak menuju titik-titik demonstrasi menyebabkan kawasan yang dilaluinya menjadi ‘sasaran’ kemacetan. Karena dikhawatirkan hari buruh sebagai simbol anarkisme massa, maka sudah selayaknya hari buruh ditetapkan sebagai hari libur nasional.

Maka dari sini, kita dapat melihat bahwasanya sektor kesehatan merupakan miniatur sistem perburuhan nasional. Sektor kesehatan juga menjadi garda terdepan dalam upaya penguatan perburuhan nasional. Lihat saja, isu ketahanan pangan keluarga, kesehatan dan keselamatan kerja, jaminan masa tua, hampir semuanya berkaitan dengan kesehatan. Sektor kesehatan juga menjadi tameng perlindungan untuk tetap mempertahankan nilai-nilai moral kemanusiaan dalam sistem perburuhan. Semoga momentum Hari Buruh menjadi kesempatan untuk refleksi menuju peningkatan perlindungan terhadap buruh kita. Amin

banner-natal-pemprov1024

Tentang Asep Rahman

Seorang peneliti muda, pengajar, dan aktivis kesehatan masyarakat. Saat ini sedang menjabat sebagai Direktur Rumah Sehat Bina Lentera Insan Manado, yang bergerak pada pemanfaatan traditional medicine sebagai solusi model kesehatan yang berbudaya, memberdayakan masyarakat, dan bernuansa sosial kemanusian.

Lihat juga

hari bumi

Hari Bumi, Memontum Menuju Pelestarian Aset Daerah

Kejadian amukan massa di Ratatotok, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara dimana menyerang Kantor Polsek setempat dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silahkan jawab pertanyaan sebelum mengirimkan komentar: