Home » Opini » BPJS Kesehatan, Simbol Konsumerisme
Rental Mobil Murah di Manado

BPJS Kesehatan, Simbol Konsumerisme

Logo BPJS KesehatanKita tahu bahwa faktor lingkungan cenderung berperan besar menentukan arah dan model sistem yang akan dianut oleh penghuni lingkungan tersebut. Namun sebaliknya, unsur-unsur pembentuk lingkunganlah yang membentuk model dan gaya sebuah sistem. Dengan kata lain, keduanya saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan.

Hal ini sama dengan sistem atau model kesehatan yang dianut oleh negara, tentu peran sumber daya manusia sangat dominan menentukan model layanan kesehatan yang akan diadobsi dan dijalankan. Selanjutnya sistem yang dilahirkan, menjadi cermin yang dapat diadopsi oleh masyarakat. Sehingga perlu kehati-hatian membangun sebuah model yang berkaitan dengan kebijakan publik.

Gaya hidup personal ala konsumerisme saat ini makin merajalela. Gaya hidup seperti ini lahir karena sistem yang tersedia memungkinkan terjadinya pola hidup seperti ini, dan berkembang pada semua sendi kehidupan, termasuk sektor kesehatan. Dalam kajian kebijakan kesehatan makro secara nasional, BPJS Kesehatan merupakan contoh model sistem yang lahir sebagai simbol konsumerisme sektor kesehatan. Mengapa? Setidaknya cukup dua alasan menurut penulis yang dapat menjadi alat diagnosa kesimpulan ini.

Pertama, BPJS Kesehatan masih berparadigma sakit, bukan berparadigma sehat. Memang sudah sewajarnya sebuah perusahaan asuransi akan cenderung berparadigma sakit, dimana sektor kuratif dan rehabilitatif merupakan wadah untuk ‘pasar’. Namun jangan lupa, bahwa BPJS Kesehatan memiliki aroma yang berbeda dengan asuransi kesehatan lainnya, apalagi dengan pihak swasta.

Banyak masyarakat miskin yang menjadi tanggungan jawab negara yang perlu dilindungi, sehingga tidak perlu membayar premi asuransi. BPJS Kesehatan lahir bak malaikat penolong berfaham sosialis, namun meng-copy-paste sistem asuransi kapitalis. Area abu-abu inilah yang perlu penegasan, bahwasanya kalau memang lebih condong pada upaya penyebuhan dan rehabilitatif, kenapa tidak disebut saja BPJS Kesakitan?

Lihat saja, ranah preventif dan promotif sangat minim dilibatkan dalam BPJS Kesehatan saat ini, padahal sampai kapanpun, dengan teori apapun, semua sepakat bahwa ranah kuratif dan rebilitatif merupakan ranah pemborosan dan mahal. Negara akan benar-benar menghabiskan energi jika mempertahankan faham ini.

Kedua, BPJS Kesehatan condong ‘besar tiang daripada pasaknya’. Indonesia bisa saja bangga memiliki jaminan layanan kesehatan universal. Namun kita lupa bahwa bonus demografi kita tidak dibarengi dengan kemandirian sektor kesehatan seperti farmasi. Ketergantungan impor menjadikan negeri ini sebagai sarang penjajahan secara sistem. Oleh karena wajar, jika ada beberapa ‘suara’ bernada bahwa BPJS Kesehatan tidak lebih sebuah perpanjangan tangan kapitalisme mendorong konsumerisme, berbalutkan kemanusiaan’.

Makanya dari itu, isu kebangkrutan BPJS Kesehatan bukanlah hal yang mustahil, bahkan banyak diprediksi akan lebih cepat bangkrut. Bahkan jika dipertahankan akan menjadi parasit yang senantiasa menggrogoti sistem kesehatan karena kecenderungan ‘konsumerisme’ baik peserta maupun penyedia layanan kesehatan. BPJS Kesehatan yang lahir dari tujuan mulia perlu senantiasa dikawal dan dikritisi, maka peran akademisi perlu dimaksimalkan.

Kritikan terhadap BPJS bukanlah upaya pelemahan, melainkan niat luhur untuk membangun sistem lebih baik. Tak ketinggalan, kemandirian farmasi lokal perlu di dorong agar kedepannya ketergantungan akan sumber farmasi impor dapat diminimalisir. Yang tidak kalah penting yakni perlunya tinjauan untuk diaktifkannya kembali layanan kesehatan tradisional yang sempat ‘dicoret’ oleh BPJS Kesehatan, dimana sebelumnya diadopsi oleh PT Askes. Sebab layanan seperti ini akan mendorong upaya kemandirian farmasi lokal jika dibarengi dengan penguatan kapasitas dan kapabilitas saintifikasi demi jaminan keamanan dan kualitas produk lokal.

banner-natal-pemprov1024

Tentang Asep Rahman

Seorang peneliti muda, pengajar, dan aktivis kesehatan masyarakat. Saat ini sedang menjabat sebagai Direktur Rumah Sehat Bina Lentera Insan Manado, yang bergerak pada pemanfaatan traditional medicine sebagai solusi model kesehatan yang berbudaya, memberdayakan masyarakat, dan bernuansa sosial kemanusian.

Lihat juga

Buruh Kesehatan, Miniatur Perburuhan Nasional

Beberapa saat yang lalu sebuah pernyataan menarik dari seorang Jusuf Kalla, dalam sebuah forum resmi, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silahkan jawab pertanyaan sebelum mengirimkan komentar: