Home » Opini » Belajar Dari Negeri Seberang
Rental Mobil Murah di Manado

Belajar Dari Negeri Seberang

Henry SombaMenata kota bukanlah persoalan mudah. Tak sekadar melihat estetikanya saja namun membutuhkan pertimbangan yang sangat teknis, mendalam, komprehensif dan sistematis, karena sebuah kota harus memiliki fungsi dan memberi manfaat bagi penduduknya. Menata kota Tak seperti membayangkan sebuah kota impian dalam kisah dongeng seribu satu malam, atau seperti cerita Jin yang dapat menciptakan sebuah istana bagi tuannya dalam sekejap mata, tetapi dibutuhkan waktu yang cukup, tetapi juga diperlukan orang-orang ahli yang benar-benar paham tentang seluk-beluk perencanaan kota.

Para penentu kebijakan Kota-Kota di Sulawesi Utara  hendaknya memahami ini dengan benar, agar pembangunan kota akan diberi prioritas dari segi kualitas arsitekturnya, karena menata kota bukan persoalan membangun fasilitas kotanya saja, tapi perlu dan harus memperhatikan beberapa hal yang penting yaitu estetika kota, fungsi, nilai, faktor budaya, perilaku masyarakat dan lain sebagainya yang dapat menjadi pertimbangan untuk menghasilkan arsitektur kota yang berkualitas.

Belajar dari Negeri Singa

Mari kita lihat Singapura, yang adalah sebuah negara yang secara umum sering disebut tak lebih dari sekedar sebuah kota. Bagaimana Singapura menata kotanya menjadi sebuah kota metropolis berkelas dunia dengan tetap memberikan keleluasan ruang untuk alam yang terbiarkan hijau/natural. Singapura tercipta bukanlah sekedar kisah negeri dongeng belaka, tapi benar-benar telah menjadi sebuah kota yang berkualitas.

Sir Stamford Raffles, yang dikenal sebagai Bapak Singapura itu, mungkin saja tak pernah membayangkan tanah sebuah pulau mati yang diinjaknya ratusan tahun lalu itu akan berubah menjadi sebuah kota metropolis berkelas dunia. Tanggal 29 Januari 1819, kali pertama orang Inggris itu datang, pulau berbentuk mirip singa itu hanyalah kawasan pemancingan ikan yang sepi. Raffles hanya mengubahnya menjadi bandar dagang Inggris yang boleh dimasuki siapa saja. Namun, efeknya kebijakan itu pulalah yang membuat tempat buatan Raflles tersebut mendunia. Para pedagang India, Tiongkok, Yahudi, Arab, Eropa dan Armenia berduyun-duyun mencari penghidupan. Kini bersama-sama orang Melayu tentu saja, mereka menjadi penduduk Singapura.

Seperti telah disinggung diatas, Singapura sekarang adalah sebuah negara kota (state city) yang berkembang dengan sangat dramatis. Tentu saja itu tak terjadi dalam satu-dua dekade saja. Pada awal-awal pertumbuhannya, Singapura pun mengalami banyak persoalan perkotaan. Keseneraian Singapura sebagai kota dagang pada zaman Raffles menimbulkan dampak yang biasa dijumpai dalam pertumbuhan sebuah kota. Muncul persoalan permukiman yang padat, kesehatan dan lingkungan, jaringan jalan yang semrawut. Persoalan paling serius yang dihadapi Singapura selanjutnya adalah banyak wilayah permukiman yang padat dan kumuh.

Pemerintah kolonial Inggris telah banyak berupaya untuk mengatasi problem itu. Tetapi begitu Singapura merdeka, warisan persoalan itu menjadi tanggung jawab penguasa negeri. Dari situlah peran Urban Renewal Department (URD) yang selanjutnya bermetamorfosis menjadi Urban Redevelopment Authority (URA). Tahun 1965, persoalan perkotaan di Singapura membutuhkan solusi serius. URD dibentuk dengan tujuan utama untuk mengatasi masalah perkampungan kumuh dan pembangunan Central Area.

Fase selanjutnya adalah muncul kebutuhan akan konsepsi perencanaan kota berjangka panjang. Gagasan itu diguratkan lewat sebuah Concept Plan (CP). Proyeksi penataan kota selama satu dekade (1971-1980) dibuat dengan matang hingga muncul gagasan memetamorfosiskan URD menjadi URA pada tahun 1974. URA hadir sebagai sebuah badan independen yang dibentuk pemerintah (independent statutory board) yang tugas utamanya membangun kembali Central Area yang telah diinisiasikan URD serta menata kembali daerah hunian penduduk. Tak main-main upaya yang telah dilakukan URA yang berkantor di Maxwell Road itu. Dekade 1981-1990, Changi Airport dibangun dan jaringan MRT (trem bawah tanah) dikembangkan.

Dekade berikutnya, Concept Plan tahun 1971 diperbarui tahun 1991. Perencanaan itu ditujukan untuk empat juta jiwa, yang pada perencanaan 2001-2010 untuk 5,5 juta jiwa. Betapapun pembangunan berlangsung gila-gilaan, dahsyatnya ada kebijakan untuk tetap mempertahankan warisan arsitektural, terutama untuk gedung-gedung tua seperti di China Town. Yang lebih khusus lagi, menyadari areal negeri mereka yang sempit, orang Singapura mengembangkan wilayah dengan reklamasi.

Ingin melihat bagaimana singapura dirancang? datang saja ke kantor URA dan hanya dalam waktu enam menit lewat light and sound show yang tersorot pada sebuah maket besar di galeri bawah, sejarah dan proyeksi penataan Kota Singapura tersaji serupa pertunjukan teater. Ya, Singapura boleh bangga memiliki URA yang diisi oleh orang-orang kreatif dan berdedikasi tinggi terhadap pembangunan negerinya. Bahkan berdasarkan informasi dari Collin Lauw, tokoh penting URA saat ini, diskusi serius memperbincangkan program URA di antara mereka tak sedolar pun mendapat insentif dari pemerintah. Itulah Singapura.

Belajar dari Negeri Jiran

Dari segi strategi, negeri Jiran pun kurang lebih sama, karena memiliki Perbadanan Putrajaya. Penciptaan sebuah kota baru yang disebut-sebut sebagai gagasan obsesif mantan PM Dr Mahathir Mohammad itu pun memiliki impian yang hampir serupa mengenai sebuah kota gigantik dan diproyeksikan sebagai pengganti ibu kota Kuala Lumpur yang telah jadi padat. Bangunan megah untuk kantor PM yang kubahnya mirip Taj Mahal, juga Masjid Putra dengan ciri arsitektural gaya Turki, serta tatanan wilayah yang terinspirasi Champs-Elysee di aris, berikut banyak sarana pendukungnya, telah berdiri. Dan, masih banyak lagi areal yang sengaja dicipta untuk membentuk kota gigantik itu. Yang terpenting, alam tak diabaikan atau bahkan dirusak oleh pembangunan obsesif itu.

Sebuah proyek perkotaan yang ambisius, juga obsesif tanpa mengabaikan harmoni dengan alam dan penduduknya, dan seperti itulah seharusnya sebuah kota dibangun. Isi dari sebuah kota, dalam hal ini manusia dan alam harus selalu menjadi alasan suatu kota dibangun, karena tidak bisa kita pungkiri bahwa manusia membutuhkan alam sekitar untuk kelangsungan hidupnya. Yang lebih penting disini adalah pembangunan kota di Singapura dan Malaysia hampir selalu memberikan ruang publik yang signifikan.

Bagaimana Dengan Kita?

Indonesia sebagai Negara kepulauan yang memiliki beranekaragam karakter, budaya dan struktur alam tentu bukanlah persoalan mudah untuk dikembangkan. Tapi, justru menurut saya itulah keistimewaan Indonesia yang dapat dibangun melalui kota-kotanya yang memiliki karakter dan pesona yang bervariasi dan menarik. Kepala daerah memiliki peran yang sangat sentral untuk membangun negeri ini. Bagaimana sebuah kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada pemimpin di daerah itu dijawab dengan baik. Peran pemimpin daerah harus benar-benar memiliki visi yang kuat untuk membangun kota, bukan hanya sekedar menghabiskan masa periode untuk melakukan aksi-aksi publik untuk kemudian dapat mempertahankan kekuasaan selama mungkin selagi bisa.

Bagi saya, beban untuk menciptakan kota yang berkualitas bagi penghuni kota itu adalah tanggungjawab setiap kepala daerah yang diberi mandat oleh masyarakat. Belajarlah dari yang terbaik karena Ada ungkapan yang mengatakan bahwa jurus paling cepat dan jitu itu adalah meniru. Dalam hal ini kita bukan ingin memposisikan diri sebagai Negara yang cari gampang, tapi meniru yang saya maksudkan disini yaitu belajarlah hal-hal yang baik yang bisa kita dapatkan dari negeri seberang Singapura dan Malaysia.

Pada intinya menata sebuah kota harus benar-benar berpatokan pada sebuah tujuan yang ingin dicapai. Seperti kota Manado yang mencoba menata kota dengan visi sebagai kota model ekowisata. Ini merupakan sebuah visi yang luar biasa bila pemerintah Kota Manado berhasil merealisasikan impian ini, karena visi ini adalah sebuah gagasan yang akan menjadikan kota bisa bersahabat dengan alam. Kota-kota yang lain sebaiknya menata kota berdasarkan pertimbangan lingkungan sebagaimana kota Manado, karena dengan demikian kita turut melestarikan alam. Melestarikan alam kota sangat penting dalam upaya menghindarkan atau meminimalisir akibat dari bencana alam yang sewaktu-waktu dapat mengancam kota.

Persoalan kota yang tersaji di beberapa kota di Sulawesi Utara seperti banjir, pemukiman kumuh, dan lainnya tentu merupakan fenomena hari ini yang harus dipecahkan oleh pengambil kebijakan untuk kehidupan kota yang lebih baik lagi dikemudian hari. Belajar dari pengalaman di negeri seberang, Singapura dan Malaysia, saya mengulangi lagi bahwa idealnya menurut saya perlu dibentuk tim khusus yang memiliki latar belakang, kompetensi dan pengalaman memadai dibidang urban design sebagaimana yang diulas diatas. Apalagi saya perhatikan dan juga sebagai koreksi yakni dibeberapa daerah di Sulawesi Utara khusus pada instansi-instansi terkait dalam hal ini dinas tata ruang kota dijabat oleh orang yang sama sekali tidak memiliki latar belakang apalagi pengalaman dibidang planologi/perencanaan kota.

Rolling jabatan dalam tujuan penyegaran itu penting, tapi untuk posisi dibidang-bidang yang sangat teknis seperti tata ruang itu harus mutlak dijabat oleh orang yang berlatar belakang pendidikan planologi/arsitektur kota. Jangan bermimpi untuk dapat menciptakan sebuah kota yang berkualitas layaknya Singapura bila kenyataannya seperti ini. Menempatkan pejabat yang tidak sesuai dengan bidang penataan kota ini saya anggap pemerintah tidak serius mengembangkan bidang ini.

Memang benar bahwa dalam sebuah instansi meskipun pemimpin utamanya tidak belatar belakang sesuai bidang tata kota tapi memiliki bawahan yang punya kompetensi tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kewenangan kepala instansi dalam proses pengambilan keputusan itu sangat besar. Intansi tata kota harus dipimpin oleh orang yang benar-benar mengerti dan paham tentang masalah kota/urban, karena sebagaimana diulas diatas bahwa mereka akan merencanakan kota bukan untuk hari ini saja, tapi bagaimana menata sebuah kota dalam jangka waktu yang panjang.

Belajar Dari Negeri Seberang oleh: Henry Roy Somba, ST (Arsitek & Pengamat Tata Kota). Apabila anda ingin menjadi penulis tamu di www.seputarsulut.com silahkan KLIK TAUTAN INI atau kirimkan tulisan anda melalui email ke info@seputarsulut.com

seputarsulut.com merupakan media online dengan konsep jurnalisme warga. Setiap Opini/Berita/Informasi yang disampaikan merupakan tanggung jawab dari penulis

banner-natal-pemprov1024

Lihat juga

Buruh Kesehatan, Miniatur Perburuhan Nasional

Beberapa saat yang lalu sebuah pernyataan menarik dari seorang Jusuf Kalla, dalam sebuah forum resmi, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Silahkan jawab pertanyaan sebelum mengirimkan komentar: